Kisah NyataSejarah

Pikiran Buruh Kolot, “Ngapain Demo Hari Merah Gak Ada Orang”

Kisah Nyata Dalam Perjuangan Federasi Serikat Pekerja Multi Sektor 

F.SPMS

Tebing Syahbandar, 29 April 2026

Mayday adalah Hari Buruh Internasional yang dirayakan oleh seluruh buruh didunia secara serentak disetiap tahun. Tanggal 1 May sendiri ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional karena tanggal tersebut adalah tanggal perjuangan berdarah kaum buruh. Perjuangan berdarah tersebut terjadi di seratusan tahun silam di negara Amerika Serikat. Saat itu buruh menuntut agar jam kerja dalam sehari tidak lebih dari 8 jam, dimana sebelumnya jam kerja buruh saat itu adalah 10 hingga 14 jam sehari.

Lihat : Instagram 

Dalam perjuangan tersebut, banyak korban jiwa yang berjatuhan dari buruh yang menuntut penetapan jam kerja tersebut. Sehingga ketika perjuangan tersebut berhasil, hari pertama aksi tersebut yang jatuh pada tanggal 1 Mei, dijadikan sebagai Hari Buruh Internasional. Demo tersebut terjadi pada tahun 1886, sekitar 140 tahun yang lalu.

Baca : May Day: Jejak Sejarah Hari Buruh Internasional – Universitas Siber Asia The 1st Cyber University in Indonesia

Setelah ditetapkannya tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional, setiap tahunnya buruh sedunia merayakannya secara bersama-sama. Turun kejalan dilakukan oleh buruh pada setiap Mayday sebagai bentuk pesta perayaan sekaligus menyampaikan tuntutan-tuntutan lainnya. Dan hingga kini tidak asing jika setiap tanggal 1 Mei dinegara manapun akan terlihat pawai buruh dijalan-jalan kota secara beramai-ramai.

Lihat Juga : Sejarah May Day dan Tuntutan Buruh Di Indonesia

Di Indonesia, sebelumnya Mayday bukanlah hari libur nasional. Buruh yang hendak ikut perayaan mayday terpaksa mengajukan cuti ke perusahaan sekalipun kadang dilarang dengan keras. Namun berkat kekompakan buruh di Indonesia di tahun 2013, Mayday akhirnya dijadikan negara sebagai Hari Libur Nasional. Hal tersebut diputuskan berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 24 Tahun 2013 tentang Penetapan 1 Mei Sebagai Hari Libur Nasional.

Setelah terbitnya Kepres tersebut (sejak tahun 2014 di Indonesia hingga saat ini), 1 Mei menjadi hari libur nasional di Indonesia. Sehingga sejak tahun 2014 tersebut buruh pun dapat mengikuti perayaan mayday dengan leluasa tanpa halangan dari pihak manapun. 

Namun sungguh disayangkan, hingga saat ini masih ada buruh yang berpemikiran kolot dalam melihat aksi di tanggal 1 Mei setiap tahunnya. Buruh-buruh yang tidak pernah ikut pendidikan serikat justru menjadi penghalang rekannya untuk turut mengikuti aksi Mayday. “Ngapain Demo Hari Merah ? Gak Ada Orang”, tutur seorang buruh di salah satu perusahaan pada Kawasan Industri Medan di tahun 2019. Dia menyebarkan pertanyaan dan pernyataan tersebut kepada semua rekan kerjanya agar tidak turut dalam aksi Mayday tahun 2019.

Baca Juga : Prabowo Dijadwalkan Hadir di Peringatan May Day 2026 di Monas, Diikuti Ratusan Ribu Buruh

“DPRD tutup, Kantor Gubenrnur Tutup, Kantor Walikota Tutup, trus mau datang kesana juga ? apa sudah goblok banget kalian”, terangnya dengan gagah saat itu. Diketahui dari rekan kerjanya sendiri, ternyata dia adalah orang suruhan perusahaan untuk menggagalkan massa Mayday dari tempatnya bekerja. Begitu gencarnya dia mengucapkan kata-kata tersebut sambil menebar ancaman mutasi dan PHK kepada siapapun yang akan turut aksi.

Baca Juga : “Mayday Kalian Kemana ? Liburan ? Mana Maen, Demonstrasilah”

Akan tetapi sungguh disayangkan saat Covid-19 merebak diseluruh dunia tahun 2020, dia diduga menjadi salah satu korban dari virus tersebut. Dan sialnya, ternyata ahli warisnya tidak dilayani oleh perusahaan saat meminta hak nya atas kematian sang buruh. Sungguh sebuah kesia-siaan saja upaya buruh tersebut dalam memperoleh posisi penting diperusahaan dengan menghianati kaumnya. Sebab ternyata dirinya sama sekali tidak dianggap oleh perusahaan ketika telah meninggal dunia. 

Istri yang tidak tau-menahu tentang perbuatan buruh tersebut pun, segera menghubungi pengurus serikat dari buruh penghianat tersebut. Dan alhasil, hak ahli waris atas kematian sang buruh tersebut dipenuhi oleh perusahaan saat perusahaan mengetahui sang istri telah menandatangani surat kuasa kepada serikat.

Baca Juga : Tentang Sang “Penghianat” Serikat, Yang Dihianati Perusahaan

Lagi-lagi terbukti tidak ada guna menjadi penghianat, terkhusus penghianat bagi perjuangan kaum buruh. Terbukti, pengusaha juga bukan menganggap penghianat sebagai orang penting yang harus dihargai dan diberi hak istimewa. Pengusaha tetap melihat keuntungan adalah hal penting yang harus dicapai dan diutamakan, sekalipun harus meniadakan jasa pekerja padanya.

Anto Gondrong selaku aktifis buruh di Serdang Bedagai pun menekankan agar buruh tidak menjadi penghianat bagi kaumnya sendiri. “Oleh karena itu buruh harus cerdas, jangan terus-terusan berharap sukses dengan berhianat dan menjilat. Kondisi perburuhan di negara kita ini tidak sedang baik-baik saja. Sehingga bersatu di serikat buruh adalah pilihan yang paling tepat”, tutur Anto Gondrong. (yig)

Gambar saat ini: Seruan Aksi Mayday 2026 F.SPMS
Gambar saat ini: Seruan Aksi Mayday 2026 F.SPMS

 

What’s your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button