Pentingya Kesadaran Tentang Persatuan Pada Perjuangan Buruh
Medan, 27 Maret 2026
Pada hari Minggu 15 Maret 2026 lalu, Pengurus Federasi Serikat Pekerja Multi Sektor (F.SPMS) melaksanakan acara buka puasa bersamanya. Acara rutin tahunan dari F.SPMS ini memang selalu dibarengi dengan diskusi lepas terkait kondisi perburuhan dan hukum. Salah satu topik menarik dalam diskusi yang dilakukan sembari buka puasa bersama tersebut adalah tentang kelemahan dari perjuangan buruh. Terungkap fakta tentang terlalu banyaknya waktu dan energi yang tersita karena serikat harus menghadapi konflik internal.
Dari Meliana diketahui bahwa buruh sangat berenergi ketika harus mendebat pengurus dan rekannya sesama buruh dalam serikat. “Tapi kalau sudah berhadapan dengan pengusaha, tidak semua juga yang siap apalagi menghadapi pejabat pemerintahan”, ucapnya. Dia pun mengatakan terkadang suatu agenda serikat yang sudah diputuskan terpaksa tertunda karena konflik yang tidak produktif tersebut. Curiga dan mengkoreksi pengurus dan kawan-kawannya sesama buruh sangat tinggi volume nya dibanding melawan pengusaha ditempat kerja.
Baca : Kekosongan Ideologi Menjadi Penyebab Perpecahan Gerakan Buruh
Dia juga mengatakan seolah-olah pengurus seperti petugas yang dibayar maksimal jika melihat caranya menagih dan menuntut kinerja pengurus. “Kalau diperhatikan cara-cara nya dalam mendebat dan menuntut kinerja pengurus, seolah-olah sudah membayar tinggi saja”, ucap Meliana. Lanjutnya, “padahal iurannya pun tidak melebihi 30 ribu rupiah dalam sebulan, tapi cara nya seperti sudah sewa pengacara profesional”. Hal-hal demikian menurut Meliana yang tidak disadari oleh buruh dan justru merugikan baginya dan serikatnya.
Meliana mengatakan cukup besar tenaga, fikiran, biaya dan kerja sama yang dibutuhkan dalam menghadapi pengusaha. “Hal ini diketahui oleh para buruh, namun mereka tidak menyadarinya”, ucap Meliana. Menurut Meliana banyak buruh mengetahui bahwa ketika buruh menghadapi pengusaha butuh energi yang besar. “Tapi hanya berhenti dipengetahuan, tidak sampai pada kesadaran yang dibuktikan dengan adanya sikap dan tindakan yang mendukung”, ucap Meliana.
Baca Juga : SPMS PAYA PINANG, “Gambaran Lika Liku Perjuangan Kaum Buruh”
Dia mencontohkan seperti anak sekolah yang mengetahui jalan untuk cerdas adalah dengan banyak belajar. “Tapi apakah semua anak sekolah mau dan serius dalam belajar ? jawabannya tidak juga kan”, tegasnya. “Advokasi terhadap buruh melawan pengusaha ibarat anak kecil melawan orang dewasa ditengah sistem hukum yang tidak konsisten”, ucap Meliana. “Jadi butuh kerja sama, bukan mencari salah pengurus dan membongkarnya ibarat membongkar kasus pembunuhan”, ucapnya sambil tertawa.
“Kadang ada pengawas ketenagakerjaan (Wasnaker) yang tidak sulit menerbitkan Penetapan tentang kekurangan hak buruh”. “Tapi lebih banyak juga yang kita temui justru penetapan tidak keluar-keluar padahal sudah sangat lama pengaduan diajukan”, tambahnya. Ia pun memberi contoh terkait dengan hak atas kekurangan upah perawat rumah sakit yang didampinginya. “Bertahun pengaduan sudah dilakukan namun hingga kini kami sebagai kuasa tidak pernah diberi penetapan tersebut”, tutur Meliana. Ia pun menceritakan bahwa ditahun 2022 ada anggota F.SPMS di Namorambe yang sudah mengadu namun penetapan belum keluar juga. “Sampai sekarang belum keluar, padahal Anjuran sudah diterbitkan dan menyebutkan tentang kekurangan upah dan THR pekerja”, infonya.
Terkait penetapan yang keluar dari aduan klien nya, Meliana menginformasikan hal tersebut terjadi pada buruh yang bekerja sebagai security. “Mereka bekerja disalah satu tempat hiburan di kota Medan, nah terkait dengan kekurangan upahnya, sudah terbit penetapannya”, ucapnya. Di Kabupaten Serdang Bedagai juga ada, namun bukan penetapan, akan tetapi Nota Pemeriksaan yang menyebut kekurangan upah. “Tapi ya itu, tidak semua pengaduan bisa sampai kepada terbitnya penetapan sekalipun hak tersebut benar-benar tidak dipenuhi”, ucapnya lagi.
Baca Juga : Alat Perjuangan Orang “Kecil” ? Ya Organisasi, Mana Ada lain
Oleh karenanya Meliana mengatakan, “Kompak lah, tidak ada yang sempurna apalagi dari kalangan buruh, justru kita harus saling melengkapi”. Ia pun berharap agar seluruh pengurus serikat dimanapun berada dapat bersabar dan tidak pecah konsentrasi dalam melakukan advokasi. “Ini masalah semua pengurus, dan saya berharap serikat atau federasi atau konfederasi manapun dapat kuat menghadapi permasalahan internal tersebut. “Di bulan baik ini semoga semua buruh dapat mengkoreksi diri dan menyadari lawannya adalah pengusaha dan bukan pengurus”, tutup Meliana. (yig)




